Postingan

BUPATI TAPUT TURUT RESMIKAN TUGU DONDA UJUNG HUTAURUK, AJAK DIASPORA KOLABORASI BANGUN BONA PASOGIT

Gambar
Bupati Tapanuli Utara, Dr. Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, S.Si., M.Si. bersama Wakil Bupati, Dr. Deni Parlindungan Lumbantoruan, ST., M.Eng. menghadiri dan meresmikan Tugu Donda Ujung Hutauruk yang berlokasi di Hutagurgur, Desa Hutauruk, Kecamatan Sipoholon, Jumat (24/10/2025). Dalam sambutannya, Bupati Jonius Taripar Hutabarat menyampaikan selamat dan sukses kepada Panitia serta seluruh pomparan (keturunan) Donda Ujung Hutauruk atas terselenggaranya peresmian tersebut. "Kita mengetahui bersama bahwa marga Hutauruk merupakan salah satu marga yang sudah banyak berbuat dan berkarya di tengah masyarakat, khususnya di Tapanuli Utara," ujar Bupati. Tugu sebagai Potensi Wisata, Penggerak Ekonomi, Mempererat Persatuan dan Kolaborasi. Lebih lanjut, Bupati menekankan bahwa kehadiran tugu ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan momentum untuk membicarakan budaya dan merupakan salah satu potensi wisata baru bagi Tapanuli Utara. "Tugu ini bisa menjadi sebuah momen untuk wis...

TUGU MARGA POSPOS DI RONCITAN, ANGKOLA

Pada generasi ketujuh silsilah keturunan Ujung Tinumpak (Simanungkalit), seorang bernama Tahi Somodung merantau ke daerah Angkola, kemudian membuka perkampungan bernama Natambang Roncitan di Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Keturunannya di daerah Angkola memakai marga POSPOS. Berikut ini adalah lokasi tugu makam TAHI SOMODUNG POSPOS SIMANUNGKALIT. Sumber video : https://www.tiktok.com/@golongan_hitam.ori
Gambar
Foto dokumen bukti tanda terima iuran sumbangan untuk keperluan Pesta Yubileum 50 Tahun Doa Bersama Keturunan Naipospos, tahun 1983.  Tampak dalam dokumen tertulis susunan kepengurusan ketua umum mewakili tujuh marga keturunan Naipospos, yakni : 1) P. I. Sibagariang 2) Jahya Sutan Marbun (Lumbanbatu) 3) Ir. S. P. Hutauruk 4) M. Banjarnahor 5) Dr. P. L. R. Pospos (Simanungkalit) 6) Ir. H. Lumban Gaol 7) Letkol M. Situmeang

Sarkofagus NAGARI LANGIT BANJARNAHOR

Sarkofagus merupakan peti mati kuno yang terbuat dari batu. Diperkirakan sarkofagus ini berusia 700 tahun. Kubur batu ini berlokasi di Desa Parsingguran I, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, menjadi makam salah satu keturunan Naipospos dari klan Marbun Banjarnahor bernama NAGARI LANGIT. Dirunut dalam silsilah marga, maka Nagari Langit adalah generasi keempat marga Banjarnahor. Dalam catatan silsilah, Banjarnahor memiliki dua orang putra yakni Gurdung Malela (Homban Julu) dan Atas Barita (Homban Solotan). Lalu, Atas Barita memiliki tiga orang putra yaitu: Pande Bosi, Raja Niapul, dan Badia Raja. Selanjutnya, Pande Bosi mempunyai tiga orang putra, yakni: Guru Sobaloson, Nagari Langit, dan Pangona Begu. Sumber video : https://www.tiktok.com/@golongan_hitam.ori

NAIPOSPOS HUTAURUK DI HARIARA SIMANGGULE

Gambar
Batu Partanda Partangiangan Pomparan ni Ompu Raja Nasumurung Naipospos Hutauruk di Hariara Simanggule, Lumban Bagasan, Laguboti, Toba, taon 1989.  Ompu Raja Nasumurung adalah putra ketiga Donda Ujung (Hutauruk). Keturunan Ompu Raja Nasumurung tersebar di beberapa perkampungan yang ada di Laguboti dan umumnya memakai marga Naipospos. Lalu, jika Donda Ujung (Hutauruk) adalah putra Toga Sipoholon (Martuasame), mengapa keturunan Ompu Raja Nasumurung tidak memakai marga Sipoholon atau marga Martuasame di Laguboti? Bahkan di batu partanda partangiangan dituliskan Naipospos Hutauruk, bukan Sipoholon Hutauruk. Mari kita bandingkan dengan Banjarnahor yang menyebut diri Marbun Banjarnahor, bukan Naipospos Banjarnahor.

MARGA KETURUNAN NAIPOSPOS DI SUKU KARO

Gambar
Berbeda dengan sistem tarombo Batak yang pada umumnya lebih mengutamakan pendekatan garis hubungan darah, lembaga adat masyarakat Karo menetapkan pembagian marga-marga suku Karo dalam lima kelompok marga besar yang disebut dengan MERGA SILIMA . Dalam penelusuran sejarah keturunan Naipospos, belum ada ditemukan para nenek moyang generasi awal keturunan Naipospos yang merantau ke Tanah Karo dan membentuk suatu marga diangkat menjadi bagian resmi masyarakat adat Karo. Jika ini memang benar-benar pernah terjadi, pasti keturunan Naipospos tersebut akan membentuk suatu perkampungan di Tanah Karo yang namanya mirip dengan identitas yang dipakai dulu di daerah asal sebagai pertanda kelak bagi keturunannya. Namun dalam zaman sekarang sering terjadi interaksi antara keturunan Naipospos dengan masyarakat Karo termasuk dalam hubungan perkawinan. Sering menjadi pertanyaan, dimasukkan ke dalam kelompok marga manakah sebaiknya keturunan Naipospos? Dari salah satu merga silima, ada suatu anggapan bahw...

ASAL MULA NAMA SIPOHOLON

Gambar
Menurut penuturan masyarakat asli yang bermukim di daerah Sipoholon, mengatakan bahwa nama daerah Sipoholon berasal dari sebuah kata dalam bahasa Batak yakni sipohulon . Dalam bahasa Indonesia berarti yang diremas. Konon, daerah Sipoholon pada zaman dahulu dikenal sebagai daerah penghasil periuk yang terbuat dari tanah liat, atau dalam bahasa Batak dikenal dengan istilah hudon tano . Dalam proses pembuatannya, tanah yang ada di daerah Sipoholon sekarang diremas (dipohuli) hingga terbentuk hudon tano. Oleh karena itulah, maka disebut tanah Sipohulon . Seiring perkembangan pengucapan, tanah Sipohulon disebut dengan nama Sipoholon hingga sekarang.

HUBUNGAN KETURUNAN NAIPOSPOS DENGAN SIHOTANG

Gambar
Tak bisa kita pungkiri bahwa secara historis, Marbun lah yang membentuk perjanjian khusus (padan) untuk tidak saling kawin dengan keturunan Sihotang. Tidak pernah si Raja Naipospos, termasuk Donda Hopol (Sibagariang), Donda Ujung (Hutauruk), Ujung Tinumpak (Simanungkalit), maupun Jamita Mangaraja (Situmeang) membuat suatu padan dengan Sigodang Ulu (Sihotang). Jika kita perhatikan dalam pesta marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang, tidak pernah menyerukan marga Sihotang sebagai dongan padan. Seruan ini hanya dilakukan dalam pesta keturunan Marbun. Demikian juga dalam pesta keturunan Sihotang hanya menyerukan marga Marbun sebagai dongan padan. Namun, bagaimana jika saat ini marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang juga menganggap keturunan Sihotang sebagai saudara atau dongan padan yang tidak boleh saling kawin (masiolian)? Apakah salah dan tidak boleh?? Seandainya seorang marga Situmeang menikah dengan boru Sihotang. Apakah yang menjadi sapaan seoran...

RAJA NAIPOSPOS atau TOGA NAIPOSPOS?

Gambar
Mari kita hentikan perdebatan untuk mengetahui mana yang benar dan salah antara penyebutan Raja Naipospos dan Toga Naipospos. Mari berpikir sejenak, ketika nenek moyang kita Naipospos baru lahir, apakah dia langsung disebut raja atau toga? Menurut legenda, Naipospos berasal dari kata "na ipos iposon" artinya memiliki bekas luka koreng pada kulit. Jika kita sepakat bahwa Naipospos tidak serta merta dipanggil raja atau toga saat baru lahir, maka satu-satunya rujukan kita adalah penyebutan yang lumrah di bona pasogit asal mula Naipospos. Di Sipoholon sendiri, nama jalan raya lintas penghubung dari Sipoholon menuju Tarutung diberi nama Jalan Raja Naipospos. Mengapa tidak diberi nama Jalan Toga Naipospos saja? Berarti ada indikasi bahwa penyebutan yang lumrah di bona pasogit adalah Raja Naipospos dan bukan Toga Naipospos. Sekali lagi ini bukan masalah mana yang benar dan salah, melainkan sebutan yang lumrah di bona pasogit asal mula keturunan Naipospos. Gambar Kantor Pos Sipoholo...

DAERAH MANA PUSAT PUNGUAN MARGA?

Gambar
Bukan hanya di kalangan marga-marga Naipospos, juga di kalangan marga-marga Batak lainnya, ada kesan menganggap bahwa punguan marga yang terbentuk di Jakarta adalah PUSAT PUNGUAN. Meskipun saat ini ibukota negara Arab Saudi adalah Riyadh, namun pusat kiblat agama Islam adalah Mekkah. Meskipun ibukota Provinsi Sumatera Utara adalah Medan, namun kantor pusat Huria Kristen Batak Protestan adalah Pearaja Tarutung. Demikian pula pusat Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa berada di New York, dan bukan di Washington, D. C. ibukota Amerika Serikat. Lalu, apakah karena ibukota negara Indonesia adalah Jakarta maka Punguan Naipospos yang di Jakarta disebut Punguan Naipospos Pusat? Jika suatu saat nanti ibukota negara dipindahkan ke Kalimantan, apakah punguan Naipospos yang berada di Jakarta, tetap disebut Punguan Naipospos Pusat?

AHA DO SIPOHOLON I ??

Gambar
Dalam beberapa literatur yang beredar disebutkan bahwa Sipoholon adalah nama salah satu putra si Raja Naipospos. Sipoholon kemudian memiliki empat orang putra yakni: Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang. Namun apabila ditelusuri lebih lanjut, para keturunan Naipospos yang bermukim di daerah Sipoholon membantah Sipoholon sebagai nama salah satu putra si Raja Naipospos. Mereka meyakini bahwa Sipoholon hanyalah nama daerah seperti Tarutung atau Siborongborong. Salah satu bukti pendukung mereka adalah belum pernah Sipoholon dijadikan marga. Seandainya Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang adalah putra Sipoholon, maka akan ada marga Sipoholon, sebagai penghormatan kepada leluhur pemersatu empat marga tersebut. Justru fakta saat ini, keturunan empat marga tersebut ada yang memakai marga Naipospos akan tetapi belum pernah ada yang memakai marga Sipoholon. BAGAIMANA MENURUT ANDA ??

KETURUNAN NAIPOSPOS DI TANAH PAKPAK

Gambar
Terlepas dari pendapat yang mengatakan Pakpak bukan Batak. Tak dapat disangkal bahwa ada beberapa marga Batak yang merantau ke Tanah Pakpak, menjadi menantu dan diangkat menjadi bagian masyarakat Pakpak. Konon, keturunan Naipospos dari garis silsilah Marbun juga ada yang merantau ke Tanah Pakpak. Menurut penuturan beberapa tetua tokoh adat marga Marbun, ada hubungan antara marga Marbun dengan marga Saraan, Meka, dan Mungkur di Tanah Pakpak. Namun, perlu penelusuran lebih lanjut, apakah marga Saraan, Meka, dan Mungkur adalah murni keturunan Marbun yang menjadi generasi pertama pembentuk marga-marga tersebut di Tanah Pakpak? Atau apakah marga-marga Marbun yang merantau ke Tanah Pakpak menjadi menantu dan ditabalkan marga Saraan, Meka, atau Mungkur? Dengan kata lain, apakah marga-marga tersebut sudah eksis di Tanah Pakpak sebelum kedatangan marga-marga Marbun ke Tanah Pakpak? Keterangan Foto: Busana Adat Pakpak Mergraha_pakpak Zona Pakpak Njuahnjuah!

PIMPINAN PARMALIM DARI MARGA NAIPOSPOS

Gambar
Sepeninggal Sisingamangaraja XII, seorang pengikutnya yang setia bernama LANJA NAIPOSPOS menerima wasiat untuk berpegang melestarikan kepercayaan kepada DEBATA MULAJADI NABOLON. Lanja Naipospos kemudian bergelar Raja Mulia Naipospos menjadi ihutan (pimpinan) ugamo Malim yang pertama berpusat di Huta Tinggi, Laguboti. Ihutan kemudian diteruskan kepada Raja Ungkap Naipospos sebagai ihutan kedua, dan dilanjutkan lagi oleh Raja Marnangkok Naipospos sebagai ihutan ketiga. Jika ditelusuri dalam silsilah Naipospos, pimpinan ugamo Malim ini adalah keturunan Donda Ujung (Hutauruk). Konon, seorang generasi ketiga Hutauruk bernama Datu Jarangar merantau ke daerah Laguboti dan berketurunan disana memakai marga Naipospos. Keterangan gambar: Raja Marnangkok Naipospos semasa hidupnya dalam sebuah upacara keagamaan Parmalim.

NAMA ASLI PUTERA TOGA MARBUN

Gambar
Pernahkah terbersit dalam pikiran Anda, apa nama asli nenek moyang pertama pewaris marga Lumbanbatu, Banjarnahor, dan Lumbangaol? Sebagaimana dusun, desa, kelurahan, dan kecamatan sebagai sistem tingkatan pembagian daerah saat ini, maka huta, lumban, banjar, dan sosor juga merupakan pembagian daerah perkampungan Batak pada zaman dahulu. Jika demikian dapat dipastikan bahwa Lumban Batu, Banjar Nahor, dan Lumban Gaol bukanlah nama asli seorang individu melainkan nama perkampungan. Mari kita bandingkan dengan keturunan Naipospos lainnya yakni marga Hutauruk. Nama asli Hutauruk adalah Donda Ujung. Lalu Donda Ujung kemudian memiliki 4 orang putera, masing-masing bernama: Raja Sumonggop, Jangjang Barani, Ompu Nasumurung, dan Ompu Hapaltua. Pada perkembangannya, nama 4 orang putera tersebut menjadi pembagian marga Hutauruk dalam 4 bagian utama yang disebut: Hutauruk Lumbansoit, Hutauruk Lumbansundul, Hutauruk Lumbanbaringin, dan Hutauruk Lumbanrihit. Nama Lumban Soit adalah nama perkampungan ...

MISTERI MAKAM SI RAJA NAIPOSPOS

Gambar
Berdasarkan penuturan dalam sebuah video youtube berjudul Misteri Makam Naipospos, disebutkan bahwa makam ini dibangun sekitar tahun 1994 di Dolok Imun atas inisiatif beberapa orang, berdasarkan kejadian kesurupan yang mengaku sebagai nenek moyang si Raja Naipospos. Tidak ada penggalian untuk pembuktian lebih lanjut dan hingga saat ini makam ini tidak ada peresmian secara sah oleh organisasi keturunan Naipospos. Jika mengikuti penuturan para tetua Naipospos yang ada di Sipoholon, mengatakan tidak mengetahui dimana letak pasti si Raja Naipospos dimakamkan. Kelak perlu pendekatan ilmiah melalui kaidah ilmu arkeologi atau sejarah untuk membuktikan keotentikan makam ini.

MARGA POSPOS SIAN RONCITAN

Gambar
Natambang Roncitan adalah nama desa di Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan. Di desa ini didirikan TUGU POSPOS tepat di atas makam nenek moyang bernama TAHI SOMODUNG. Keturunan Tahi Somodung inilah yang memakai marga Pospos. Jika dirunut dari silsilah si Raja Naipospos, Tahi Somodung adalah keturunan Ujung Tinumpak (Simanungkalit). Apabila penomoran silsilah dihitung dari Ujung Tinumpak (Simanungkalit) sebagai generasi pertama marga Simanungkalit, maka Tahi Somodung merupakan generasi ketujuh marga Simanungkalit. Tahi Somodung inilah yang merantau ke daerah Angkola dan berketurunan di Roncitan.

Survei Pendapat Silsilah Naipospos

Yth. Bapak, Ibu, Saudara, Saudari, keturunan Naipospos ,   Mohon berkenan meluangkan waktu sejenak mengisi form survei online berikut. Survei diharapkan bermanfaat b agi pihak-pihak terkait  sebagai salah satu sumber penelusuran sejarah silsilah Naipospos. Semoga keturunan Naipospos semakin bersatu, satahi, saoloan.   Silahkan klik link berikut >>  https://forms.gle/6re1Y31jUuFidiRMA      Mauliate   Admin